DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI  — Mengelola lebih dari 100 ekor sapi di kawasan perkebunan kelapa sawit bukan perkara sederhana. 

Pergerakan ternak perlu dikendalikan agar tidak memasuki area sensitif, sementara pemanfaatan hijauan juga harus diatur agar tidak terkonsentrasi pada satu lokasi.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim dosen Program Studi Teknologi Pakan Ternak Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) menerapkan smart electric fence berbasis internet bersama Kelompok Ternak Wonomulyo, Desa Alur, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan.

Teknologi ini dikembangkan sebagai sistem penggembalaan terkendali dalam pola integrasi sapi–sawit. 

Berbeda dengan pagar listrik konvensional, smart electric fence dapat dikontrol melalui telepon seluler dengan memanfaatkan jaringan internet sehingga pengelola dapat mengoperasikan sistem secara lebih praktis.

Ketua tim pengabdian, Muhammad Irvan Ali, mengatakan teknologi tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata peternak yang mengelola populasi sapi dalam jumlah besar.

Dengan populasi lebih dari 100 ekor, pengelolaan sapi membutuhkan sistem yang lebih terarah. 

"Smart electric fence membantu membatasi area penggembalaan, mengatur rotasi ternak, sekaligus memberikan kemudahan karena sistem dapat dikontrol melalui handphone,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).


Lebih Mudah Mengendalikan Ternak

Salah satu manfaat utama penerapan teknologi ini adalah mempermudah pengendalian pergerakan sapi. 

Areal penggembalaan dapat dibagi menjadi beberapa paddock atau blok. Sapi ditempatkan pada blok yang telah ditentukan, kemudian dipindahkan secara bertahap sesuai kondisi hijauan dan kebutuhan penggembalaan.

Sistem tersebut membantu mengubah pola penggembalaan bebas menjadi lebih terencana. 

Ketika satu blok digunakan, blok lainnya dapat diistirahatkan sehingga memberikan kesempatan bagi hijauan untuk tumbuh kembali.

Pengaturan blok juga membantu mencegah ternak memasuki tanaman sawit muda, fasilitas kebun, jalan operasional, maupun area lain yang perlu dilindungi.

Dalam penerapannya, electric fence tidak hanya difungsikan sebagai pembatas fisik, tetapi juga menjadi bagian dari manajemen penggembalaan. Mulai dari pembentukan paddock, pengaturan rotasi ternak, perlindungan area sensitif hingga peningkatan ketertiban operasional.


Pengendalian Melalui Handphone

Unsur pembeda dalam penerapan teknologi ini terletak pada sistem smart electric fence yang terhubung dengan internet. 

Koneksi tersebut memungkinkan pengelola mengendalikan sistem melalui handphone.

Bagi kelompok yang mengelola lebih dari 100 ekor sapi dengan areal penggembalaan yang tersebar, sistem ini membuat pengoperasian pagar lebih praktis dibandingkan jika seluruh pengendalian harus dilakukan langsung di lokasi perangkat.

Meski demikian, teknologi digital tidak menggantikan pemeriksaan lapangan. Kondisi kawat, vegetasi, sumber daya, energizer, grounding, serta perilaku ternak tetap perlu diperiksa secara rutin untuk memastikan sistem berfungsi dengan baik.

“Teknologi yang kami bawa tidak hanya berbicara tentang pagar listrik, tetapi bagaimana teknologi digital dapat membantu peternak mengelola penggembalaan secara lebih efektif, aman, dan mudah dioperasikan,” kata Irvan.


Libatkan 65 Peserta

Penerapan teknologi tersebut diikuti 65 peserta yang terdiri atas anggota kelompok ternak, mahasiswa, dan praktisi.

Kegiatan tidak hanya berupa pemasangan perangkat, tetapi juga disertai pendampingan mengenai cara kerja smart electric fence, pembentukan paddock, rotasi penggembalaan, pengenalan pagar kepada sapi, pemeriksaan sistem, pemeliharaan, serta prosedur keselamatan.

Tim pengabdian terdiri atas Muhammad Irvan Ali sebagai ketua, bersama Imron Musthofa dan Baluh Medyabarata Atmaja sebagai anggota. Ketiganya merupakan dosen Politeknik Negeri Tanah Laut.

Melalui pendampingan tersebut, teknologi diharapkan tidak berhenti sebagai perangkat yang dipasang di lokasi, tetapi dapat dioperasikan dan dirawat secara mandiri oleh kelompok ternak.


Dari Pagar Menjadi Sistem Manajemen

Penerapan smart electric fence menunjukkan bahwa digitalisasi peternakan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks. 

Teknologi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan konkret di lapangan, seperti mengendalikan populasi sapi, mengatur pemanfaatan hijauan, melindungi tanaman sawit, serta mempermudah pekerjaan peternak.

Integrasi sapi–sawit sendiri memiliki potensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya karena vegetasi di bawah tegakan sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan. 

Namun, pemanfaatannya perlu dikelola melalui sistem rotasi agar tetap terkendali dan berkelanjutan.

Dengan penerapan smart electric fence, pengelolaan ternak di Kelompok Ternak Wonomulyo diarahkan dari pola penggembalaan yang sulit dikendalikan menuju sistem yang lebih terukur, terhubung, dan mudah dikelola.

Bagi Politala, penerapan teknologi ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi vokasi dalam menghadirkan inovasi yang dapat langsung diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Pendanaan 2026, yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Melalui kolaborasi perguruan tinggi, kelompok ternak, mahasiswa, dan praktisi, penerapan smart electric fence diharapkan menjadi langkah menuju pengelolaan integrasi sapi–sawit yang lebih aman, efisien, adaptif, dan berbasis teknologi.

(derapwaktu.com/dw1)