DERAPWAKTU.COM, BANJARMASIN – Rasa waswas mulai menghantui masyarakat Kalimantan Selatan setelah terungkap banyaknya uang warga di banua ini dilaporkan raib akibat penipuan online (scam).
Informasi dihimpun, Rabu (8/7/2026), total nominal uang warga akibat scam mencapai lebih seratus miliar.
Itu terjadi pada rentang waktu sejak November 2024 hingga pertengahan tahun ini (2026).
Besarnya nilai kerugian itu memicu kekhawatiran karena korban diperkirakan jauh lebih banyak dibandingkan laporan yang masuk.
Keresahan atas maraknya penipuan online juga dirasakan warga. Rina Sari (35), warga Kecamatan Banjarmasin Tengah, mengaku kini lebih berhati-hati setiap menerima telepon maupun pesan yang mengatasnamakan bank atau instansi tertentu.
"Belakangan ini saya jadi takut kalau ada nomor tidak dikenal menghubungi. Nilai kerugiannya sampai ratusan miliar membuat kami sadar siapa saja bisa menjadi korban. Mudah-mudahan layanan pengaduan benar-benar memudahkan masyarakat bertindak cepat," ujarnya.
Hal senada disampaikan Muhammad Irfan (42), warga Kelurahan Pelaihari. Ia menilai penipuan digital kini semakin sulit dikenali karena pelaku menggunakan berbagai modus yang tampak meyakinkan.
"Yang membuat resah bukan hanya nominal kerugiannya, tetapi cara pelaku yang semakin canggih. Kami berharap edukasi tentang modus-modus penipuan diperbanyak sampai ke desa-desa agar masyarakat tidak mudah tertipu," katanya
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Selatan, Agus Maiyo, mengungkapkan nilai kerugian akibat scam sejak November 2024 hingga semester pertama 2026 mencapai Rp112 miliar.
"Angka Rp112 miliar itu berdasarkan laporan yang masuk. Sementara korban yang tidak melapor kemungkinan masih banyak, sehingga kerugian sebenarnya bisa lebih besar," ujarnya.
Menurut Agus, kemajuan teknologi memang memudahkan masyarakat bertransaksi, tetapi juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksi penipuan melalui telepon, pesan singkat hingga media sosial.
Ia mengingatkan, korban scam memiliki golden time sekitar satu jam untuk melapor. Dalam rentang waktu itu, peluang penelusuran aliran dana dan pemblokiran rekening tujuan masih cukup besar.
"Kalau korban segera melapor sebelum satu jam, kemungkinan uang bisa diselamatkan lebih besar. Karena itu jangan menunggu atau malu melapor," katanya.
Sebagai upaya mempercepat penanganan, OJK bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) berencana membuka help desk pengaduan di setiap kecamatan. Program itu akan dimulai di Kota Banjarmasin sebelum diperluas ke wilayah Banua Anam.
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Banjarmasin, Muhammad Ikhsan Alhak, menyatakan Pemkot Banjarmasin siap mendukung pembentukan layanan tersebut di lima kecamatan.
"Apa yang diperlukan untuk help desk akan kami koordinasikan bersama OJK dan Bank Indonesia agar segera berjalan," katanya.
Dengan kerugian yang telah mencapai Rp112 miliar, OJK mengimbau masyarakat untuk tidak pernah memberikan data pribadi, PIN, password maupun kode OTP kepada siapa pun, serta segera melapor apabila mendapati indikasi menjadi korban penipuan daring.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)