DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Lahan bekas tambang batubara yang selama ini identik dengan hamparan tanah tandus ternyata tidak harus berakhir sebagai "lahan mati".
Melalui riset berbasis sains, lahan yang masam dan miskin unsur hara itu terbukti dapat direhabilitasi menjadi media produktif untuk budidaya sorgum, tanaman multiguna yang berpotensi menopang ketahanan pangan sekaligus penyediaan pakan ternak.
Temuan tersebut menjadi inti disertasi dosen Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala), Dr Anton Kuswoyo, yang berhasil mengantarkannya meraih gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan, IPB University.
Hasil penelitiannya dipresentasikan dan dipertahankan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Aula Fakultas Peternakan IPB, Selasa 30 Juni 2026 lalu.
Kepada media ini, Senin (6/7/2926), Anton mengungkapkan, ketertarikannya terhadap sorgum telah dimulai sejak 2023 silam.
Menurutnya, komoditas tersebut memiliki nilai strategis karena mampu menjawab tiga tantangan sekaligus, yakni diversifikasi pangan, penyediaan hijauan pakan ternak, serta optimalisasi lahan marginal, khususnya lahan pascatambang batubara yang cukup luas di Kalimantan Selatan.
Lahan pascatambang umumnya memiliki tingkat keasaman tinggi. Landungan unsur hara rendah, dan kondisi fisik yang kurang mendukung bagi pertanian.
"Namun melalui pendekatan ilmiah, pengelolaan tanah yang tepat, serta teknologi pembenah tanah, lahan tersebut memiliki peluang besar untuk dipulihkan menjadi lahan produktif," ujar Anton.
Riset yang dilaksanakan di lahan reklamasi pascatambang batubara PT Arutmin Indonesia Tambang Asamasam, Kabupaten Tanah Laut, membuktikan rehabilitasi lahan dapat dilakukan menggunakan kombinasi bahan pembenah tanah berupa asam humat, dolomit, dan kompos.
Ketiga bahan tersebut memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi. Asam humat meningkatkan kemampuan tanah menyimpan unsur hara, dolomit menetralkan tingkat keasaman tanah. Sedangkan kompos memperbaiki struktur tanah sekaligus meningkatkan kandungan bahan organik.
Melalui formulasi dan dosis yang tepat, tanah yang sebelumnya sulit ditanami berubah menjadi media tumbuh yang layak bagi tanaman sorgum.
Hasil penelitian menunjukkan sorgum mampu tumbuh baik di lahan pascatambang dan menghasilkan biomassa dalam jumlah tinggi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak ruminansia, terutama sapi dan kambing.
Potensi Multiguna Manfaat
Tidak hanya berhenti pada aspek budidaya, Anton juga mengembangkan konsep pemanfaatan sorgum sebagai tanaman multiguna.
Bijinya berpotensi menjadi sumber pangan alternatif, sedangkan batang dan daunnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Bahkan dalam penelitian doktoralnya, ia juga mengkaji strategi pemanfaatan sorgum bersama tumbuhan lokal dan limbah pertanian sebagai formulasi pakan kambing.
Menurut Anton, penelitian perguruan tinggi semestinya tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan pembangunan daerah.
"Lahan bekas tambang tidak harus berakhir sebagai lahan mati, tetapi dapat diolah kembali menjadi ruang produktif melalui ilmu pengetahuan dan inovasi," tegasnya.
Dalam sidang promosi doktor, Anton memaparkan tiga kebaruan (novelty) utama penelitiannya.
Pertama, pengembangan formulasi amelioran berbahan baku lokal yang terdiri atas asam humat, dolomit, dan kompos.
Kedua, pengembangan model rehabilitasi lahan pascatambang melalui sinergi amelioran lokal, pupuk nitrogen (urea), dan fungi mikoriza arbuskula (FMA).
Ketiga, pengungkapan mekanisme adaptasi fisiologis tiga varietas sorgum, yakni Bioguma-2, Samurai-1, dan Samurai-2 terhadap kombinasi perlakuan tersebut sebagai dasar penyusunan paket teknologi budidaya sorgum berkelanjutan.
Anton juga menyampaikan apresiasi kepada PT Arutmin Indonesia Tambang Asamasam yang telah memberikan dukungan dan fasilitas selama pelaksanaan penelitian.
"Kolaborasi perguruan tinggi dan dunia industri menjadi faktor penting dalam menghasilkan inovasi berbasis riset yang dapat diterapkan secara nyata untuk rehabilitasi lahan, pengembangan pertanian berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat," katanya.
Direktur Politala Penguji Ekstra
Direktur Politala, Dr Ir Meldayanoor SHut M.S yang hadir sebagai penguji luar komisi, menilai keberhasilan Anton merupakan bukti bahwa dosen Politala mampu menghasilkan penelitian berkualitas yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
"Penelitian ini memiliki kontribusi ilmiah yang kuat sekaligus menawarkan solusi nyata bagi rehabilitasi lahan pascatambang batubara serta pengembangan sorgum sebagai sumber pangan dan pakan," sebut Meldayanoor.
Pijaknya berharap hasil riset tersebut terus dikembangkan menjadi inovasi terapan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat, dunia industri, dan pembangunan Kalimantan Selatan.
Ia menambahkan, Politala akan terus mendorong budaya riset yang berorientasi pada penyelesaian persoalan riil masyarakat melalui kolaborasi dengan dunia usaha dan industri serta hilirisasi hasil penelitian.
Capaian Anton juga mendapat apresiasi karena sebelumnya karya ilmiahnya berjudul "Kajian Agronomi dan Nutrisi Sorgum Hijauan Pakan Berenergi Tinggi di Lahan Pascatambang Batubara sebagai Produk Unggulan Kalimantan Selatan" berhasil meraih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2025.
Munculkan Asa Baru Warga
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap ketahanan pangan dan rehabilitasi lingkungan, hasil riset tersebut dinilai membuka perspektif baru bahwa lahan pascatambang tidak hanya dapat dipulihkan secara ekologis.
Lebih dari itu juga mampu memberikan nilai ekonomi melalui pengembangan komoditas pertanian yang adaptif.
Salah seorang warga Pelaihari, Rahmadi, mengaku tertarik mencoba menanam sorgum setelah mengetahui hasil penelitian tersebut.
Menurutnya, selama ini masyarakat lebih mengenal jagung atau padi, padahal sorgum memiliki manfaat yang lebih luas.
"Kalau memang terbukti bisa tumbuh di lahan yang kurang subur dan hasilnya bisa dimanfaatkan sebagai pangan maupun pakan ternak, tentu sangat menarik untuk dikembangkan," sebutnya.
Dirinya berharap ada pendampingan dari kampus agar masyarakat dapat belajar langsung membudidayakan komoditas tersebut.
Apresiasi serupa disampaikan Nur Aisyah, warga Kecamatan Jorong. Ia menilai keberhasilan riset tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi mampu menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap persoalan daerah.
"Saya berharap sorgum tidak hanya berhenti sebagai bahan penelitian. Akan sangat baik apabila dikembangkan menjadi komoditas unggulan baru di Tanah Laut sehingga masyarakat memperoleh alternatif usaha sekaligus ikut mendukung pemulihan lahan bekas tambang," ujarnya.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)